| AYAH KAU ADALAH SEGALANYA |
Ayah,
satu kata yang bermakna sangat dalam. Sosoknya mulai menua
ditelan zaman dengan rambut putih dan
kulit keriput. Beliau adalah fondasi kuat diriku selama ini. Aku ada, bertahan
dan berjuang di kerasnya hidup berkat dirinya. Ayah adalah sang pelita. Tanpa
mengenal usia, Beliau tetap berjuang demi keluarganya. Tidak ada kata menyerah
terbesit sedikit pun di benaknya. Bahkan ketika sedang terbaring sakit. Beliau
tetap menomorsatukan anaknya.
Pernah suatu ketika Beliau sakit keras,
ucapan dokter sudah membuat aku dan keluarga menangis tak henti-henti. Aku sayaang
sekali dengan Ayahku, aku ingin Ayahku sembuh. Tak bisa kubayangkan hidupku
tanpanya. Ketika itu sungguh egois diriku. Seharusnya aku berdoa yang terbaik
untuk Ayahku. Banyak perawat yang mengatakan bahwa sakit seperti Ayahku telah
banyak menelan korba jiwa. Mereka menyarankan kami untuk bersabar dan
bertawakal. Ayahku tahu bagaimana kondisinya ketika itu. Beliau justru tetap
semangat dan tak pasrah begitu saja. Beberapa kali sempat diopname di RS negeri
dan swasta. Setelah dirasa cukup pulih, Ayahku memilih mencari pengobatan
alternatif sampai ke luar kota. Tidak hanya satu tempat yang kami kunjungi dari
Demak, Jogja, sampai Kalibening. Ayahku juga meracik obat tradisional yang di
beli di pasar dan didapat dari kebun sekitar rumah. Baunya saja aku sudah tidak
tertarik, warnanya sungguh hitam, saat aku coba rasanya sangat pahit (aku
sampai muntah). Ayahku tidak merasakannya dia tetap rajin membuatnya setiap
pagi dan meminumnya tanpa keluhan. Begitu seterusnya sampai dokter menyatakan
kondisi Ayahku sudah semakin membaik. Terkadang memang kambuh, tapi
Alhamdulillah sekarang setelah 7 tahun berlalu Ayahku rajin kontrol dan minum
obat. Beliau sehat walafiat, semoga panjang umur dan sehat sentosa selalu Ayahku.
Pelajaran yang dapat kuambil dari Ayahku
ini adalah kegigihanya. Tetap mencoba dan berusaha dengan segala kemungkinan.
Tidak lupa pula berdoa dan meminta pertolongan kepada Tuhan Sang Pemberi Ruh
kehidupan. Selain itu, entah kenapa semenjak Ayahku sakit, aku mulai
mempercayai adanya keajaiban. Ada dua makna bagiku, yang pertama keajaiban
merupakan hasil dari kebaikan yang kita tanam selama ini. Kedua, keajaiban
adalah buah kesuksesan dari kegigihan dan kesabaran selama ini yang dijalani
dengan ikhlas. Itu yang terjadi dengan Ayahku. Ayahku orang yang baik dan rajin
beribadah, selain itu tidak pantang menyerah. Kalau aku yang berada di
posisinya belum tentu aku setegar itu. Ketabahannya tidak bisa diragukan lagi.
Banyak pelajaran hidup yang bisa kuambil darinya.
Ayah,
orang yang sangat aku sayangi dan kagumi. Beliau sangat
kukagumi dan kuhormati. Benar bahwa “Because father is a daughter first love”. Ayahku
tak akan pernah mengkhianati dan jahat terhadapku. Beliau pasti akan melindungi
dan berada dibarisan pertama apabila ada yang berani menyakiti anak gadisnya
ini. Walaupun begitu, Ayahku tidak menanamkan sifat manja. Aku harus bisa
menyelesaikan masalah tanpa embel-embel Ayahku ikut campur seperti ketika kita
berantem dengan teman sebaya. Jarang sekali Ayahku mengecewakanku karena memang
manusia tidak ada yang sempurna. Ayahku pun begitu, bagiku kelebihan Ayahku
lebih terpancar daripada kekurangannya. Semoga di masa depan aku bisa berjodoh
dengan pria yang memiliki sifat sebaik Ayahku. Semoga kelak, Engkau bisa
menikahkan putrimu ini dengan lelaki baik atas restumu. Ayahku wahai cinta
pertamaku, panutanku, dan pahlawanku selamanya.
Ayah, satu kata yang langsung dapat membuat
air mataku menetes. Hal itu bukan tanpa sebab. Entah semua alasan bercampur
menjadi satu. Aku bahagia, terharu, sedih dan kecewa. Bersyukur sekali
memperoleh sosok panutan seperti Ayahku. Beliau orang yang baik, rajin
beribadah, sederhana, tegas, penyayang dan kesabarannya sungguh tak ternilai.
Belum pernah aku menemui sosok sesabar Ayahku. Ayahku selalu mengalah dan
mengutamakan kebutuhan keluarga daripada dirinya, Tak pernah berharap banyak
dari anak-anaknya, cukup melihat senyum bahagia di wajah anaknya Beliau sudah
puas. Ayahku bahkan terkadang kurang tidur, harus bangun pagi-pagi, dan
melakukan banyak hal. Beliau jarang sekali menyuruhku maupun adik-adikku selama
itu masih bisa dikerjakan sendiri. Ayahku tidak pernah ingin merepotkan
anak-anaknya. Aku, sebagai seorang anak belum bisa memberikan apa-apa untuk Ayahku.
Hal tersebut yang membuatku sedih dan kecewa. Terkadang aku berfikir coba saja Ayahku
mempunyai anak seperti si A yang sudah sukses pasti sangat beruntung. Akan
tetapi aku menepis semua pikiran itu, Ayahku pasti sudah mensyukuri memiliki
kami, keluarganya. Satu yang harus aku lakukan sekarang, tetap berusaha sekuat
tenaga untuk membahagiakan Ayahku. Kebahagiaanku adalah melihat Ayahku
tersenyum.
Ayah,
aku rindu sekali. Selama kuliah ini aku jarang bertemu Ayahku.
Banyak yang ku khawatirkan. Apakah Ayahku sehat? Cukupkah tidurnya? Teraturkah
makanya? Apakah Beliau sibuk dan lelah? Aku sedih apabila tidak bisa membantu Ayahku.
Setiap kali pulang ke rumah, aku pasti akan selalu membantu tugas Ayahku.
Sekecil apapun itu. Rasanya bantuanku belum sepadan dengan pengorbanan yang Ayahku
telah berikan selama ini. Banyak pengorbanan yang teramat dalam dilakukan Ayahku.
Kesulitan dan kepedihan yang dilaluinya. Mungkin hanya aku, Ayahku, dan Tuhan
yang tahu seberapa besar itu. Aku bukan orang yang ekspresif dalam
memperlihatkan cinta dan kasih sayang. Bahkan aku juga jarang memeluk Ayahku
ketika bersama. Ingin ku sampaikan “Ayah, Intan sangat sayang dan bersyukur
memiliki Ayah melebihi apapun”. Semua kata-kata ini tidak bisa aku utarakan
secara langsung. Pasti aku akan seketika terisak dan tidak bisa melanjutkan
ucapanku. Adanya tulisan ini, berharap Ayah tahu isi hati Intan yang
sesungguhnya. Semoga Ayah selalu sehat, panjang umur, bahagia, sukses, dan
dalam perlindungan Allah SWT. I Love You, Ayah.

Komentar
Posting Komentar