Langsung ke konten utama

Novel : Kau yang Terpendam

Lama Tak Berjumpa

Sosok itu, sudah lama tak pernah kutemui. Betharap dari sosial media pun percuma. Sosoknya sedikit mirip denganku, tidak terlalu mengumbar kehidupan pada sosial media. Aku hanya mengandalkan postingan orang lain atau kerabatnya. Hanya untuk tahu "apa kabar dia di sana?".

Sudah beberapa tahun aku tak berjumpa, tapi perasaan itu masih tetap sama. Kekagumanku terhadapnya sudah mengakar dalam di lubuk hatiku. Akarnya tertancap kokoh sulit untuk di cabut. Bahkan sahabatku sendiri, Sania sampai heran. 
"Dasar kau ini, sudahlah bangun dari mimpimu. Lihat sekitarmu, sadarlah. Masih banyaklelaki baik yang bisa mendampingimu." ucap Sania sambil melanjutkan setrika bajunya.
"Aku tahu, dia itu seperti oppa-oppa Korea yang sudah meracuniku. Bahkan membuat aku kecanduan. Sulit dek buat aku gak inget dia." balasku sambil menatap layar laptop.
"Yasudahlah, bosan aku kau membahas dia. Mending kita tonton drama korea lagi itu." Kata Sania, merebut laptop didepanku.

Sungguh aku benar-benar rindu. Ternyta benar bahwa rindu itu berat. Tidak semua orang bisa menanggungnya. Ku akui diriku sanggup. Buktinya sudah bertahun-tahun aku bertahan. Cerita ini memang berbeda ketika masa sekolah dulu. Walaupun aku jarang mengobrol dengannya. Tapi setiap saat ketika jam pelajaran, waktu istirahat, maupun les aku bisa bebas menatapnya. Oleh karena itu, dulu penyakit rindu ini belum kuderita. 

Terakhir kali kudengar kabarnya, dia sedang menjalani KOAS. Calon dokter rupanya. Ya memang dia calon dokter yang tampan dan baik hati pastinya. Belum pernah selama aku hidup, bertemu dengan sosok lelaki seperti dia. Baik aku akan jelaskan detainya. 

Dia memiliki wajah di atas rata-rata (keturunan Arab), kulit bersih (untuk ukuran pria), tinggi, kurus, memakai behel, rapi, selalu memakai jam tangan dan murah tersenyum. Selain itu dia anak yang pintar dan juga banyak memiliki bakat. Di bidang olahraga dia ahlinya dalam badminton, renang, lari, basket semua bisa. Apalagi kalau dia naik motor trail. Di bidang seni, dia sangat jago bermain drum, wah mataku sampai lurus ke depan memandang dia kalau lagi main. Alat musik lain yang dia kuasai adalah gitar. Meleleh hati aku kalo dia main gitar bareng anak cowok lain di pojokan kelas. Bela diripun dia menguasai. Dalam hal kerapian, sungguh bersih dan tertata.Pakaian rapih, buku catatan bahkan lebih rapi daripada aku. Perlakuan sikapnya juga buat meleleh para gadis. Motonya selalu menomorsatukan wanita. 

Kalau mengingat itu, mana ada lelaki duplikatnya.  Ya kalau melihat lelaki sempurna lainnya, mungkin banyak yang lebih baik dari dia. Tapi jelas sangat jauh dari jangkauan aku. Dia saja sudah terasa bagai bumi dan langit. Mungkin cerita ini akan musnah ketika aku menikah nanti. Tandanya aku sudah mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik.

Hayoo, sebenarnya aku ini hanya kagum apa sudah benar-benar jatuh cinta ya kawan. Solanya aku belum tau rasanya cinta dan patah hati.

Komentar